Inovasi Bank Sampah Banyumas: Dari Kompos hingga Energi Baru Terbarukan

DMBGlobal.CO.ID – Bank sampah kini dipandang sebagai garda terdepan dalam upaya mitigasi perubahan iklim di Kabupaten Banyumas.

Melalui sistem pengelolaan berbasis masyarakat, bank sampah tidak hanya membantu menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga mengajak warga lebih bijak memperlakukan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi.

Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas, R. Stephanus Sigit S.P., S.Hut, menegaskan efektivitas peran bank sampah, terutama di lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim).

“Dengan adanya bank sampah, masyarakat dapat memilah, mengolah, hingga menjual kembali sampah. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tapi juga menambah pendapatan warga,” ujarnya.

Hingga 2025, tercatat ada 91 lokasi ProKlim di Banyumas dengan tingkatan Pratama, Madya, Utama, hingga Lestari.

Beberapa di antaranya telah memiliki bank sampah berbadan hukum, seperti Bank Sampah Ramah di Kelurahan Kober, Bank Sampah Andalas di Desa Alasmalang, serta Bank Sampah Cikidang Bersih Lestari di Desa Cikidang.

Aktivitas bank sampah di wilayah ProKlim meliputi pengumpulan dan pemilahan, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga daur ulang plastik, kertas, maupun logam.

Sejumlah unit bahkan mengembangkan inovasi, misalnya mengolah kulit durian dan limbah plastik menjadi sumber energi baru terbarukan.

Bank sampah di Banyumas terbukti kurangi sampah TPA, tekan emisi karbon, dan tingkatkan pendapatan warga.
Program bank sampah Banyumas dukung ProKlim, dorong ekonomi warga sekaligus mitigasi perubahan iklim. (Dok. DLH Banyumas)

Sigit menjelaskan, sistem ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Pengelolaan Sampah dan aturan daerah yang menekankan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

“Paradigma lama membuang sampah ke TPA harus ditinggalkan. Kini sampah dipandang sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk energi, pupuk, maupun bahan baku industri,” katanya.

Selain aspek lingkungan, keberadaan bank sampah juga menjadi wadah edukasi bagi masyarakat agar terbiasa mengurangi plastik sekali pakai, mengolah sampah organik, serta memanfaatkan kembali barang bekas.

Ia menambahkan, pengembangan bank sampah di Banyumas masih perlu diperluas lewat kerja sama pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.

“Semakin banyak bank sampah terbentuk, semakin besar kontribusi Banyumas dalam menekan emisi gas rumah kaca. Ini sejalan dengan target menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat,” tutur Sigit.* (Sumber: dlhkabbanyumas.org)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *