Strategi Pasar Karbon: Indonesia Surplus Emisi, Kemenkeu Prioritaskan Diplomasi Jual Kredit Karbon

JAKARTA, DMBGLOBAL.CO.ID – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan bahwa Indonesia bergerak lebih cepat dalam menekan emisi karbon, bahkan melampaui komitmen yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC).

Pencapaian ini menempatkan Indonesia sebagai pemasok besar kredit karbon global.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki surplus besar kredit karbon, yang sebagian besar ditopang oleh sektor Forestry and Other Land Use (FOLU) dan kehutanan.

“Indonesia sangat konkret bahkan lebih cepat dibandingkan banyak negara mengurangi emisi gas rumah kaca. Per data terakhir kita punya surplus karbon kredit berdasarkan pencapaian kita itu lebih dari 1.000 juta ton karbon kredit,” ungkap Febrio dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (17/11/25).

Kredit karbon Indonesia saat ini telah diperdagangkan secara internasional melalui indeks IDX Carbon di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemerintah berupaya agar kontribusi besar Indonesia terhadap penurunan emisi dunia dihargai oleh pasar karbon global.

“Jadi, kita itu sudah lebih advance dibandingkan banyak negara lain, justru sekarang kita minta negara lain bayar kita. Jadi, jangan kita minta perusahaan-perusahaan kita bayar lebih banyak lagi, jadi untuk perjuangan sekarang justru adalah membangun pasar karbon agar global bayar kita dengan emisi yang kita kurangi sangat banyak,” jelas Febrio.

Indonesia Pimpin Aksi Iklim. Kemenkeu mengumumkan Indonesia surplus lebih dari 1.000 juta ton kredit karbon berkat sektor kehutanan (FOLU), melampaui target NDC. Pemerintah kini fokus meminta pasar karbon global membayar kontribusi emisi.
Febrio Kacaribu dari Kemenkeu menyatakan Indonesia sangat progresif dalam menekan emisi karbon, mencatat surplus 1.000 juta ton kredit karbon. Cari tahu strategi Indonesia meminta dunia membayar melalui pasar karbon global. (Foto Ilustrasi)

Febrio menilai Indonesia sangat progresif karena sebagian besar pencapaian berasal dari sektor kehutanan, yang berperan sebagai “paru-paru dunia.” Ia menambahkan bahwa tujuan awal dari pajak karbon adalah mendorong pertumbuhan pasar karbon, namun kondisi terkini menunjukkan bahwa Indonesia telah berada di posisi sebagai pemasok besar kredit karbon.

“Tujuan pajak karbon adalah untuk membantu pasar karbon hidup, sekarang kita punya surplus karbon kredit, terutama dari hutan. Ini lagi ingin kita jual agar global punya tanggung jawab terhadap emisi gas rumah kaca global, jangan lagi kita tambah lagi beban. Nah, sampai nanti mereka menunjukkan partisipasi mereka, kalau kita nanti perlu lagi tambah surplus emisi kita, kita dorong lagi, tapi ini perjuangan kita sekarang adalah memang diplomasi internasional,” terangnya.* (Sumber: Antara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *