Krisis Sampah Nasional: Ancaman Serius yang Menyimpan Peluang Ekonomi Baru

JAKARTA, DMBGLOBAL.CO.ID – Krisis sampah di Indonesia kini memasuki fase mengkhawatirkan. Masalah ini tidak lagi terbatas pada urusan kebersihan, tetapi telah merambat ke sektor ekonomi, kesehatan publik, dan keberlanjutan lingkungan.

Laporan Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menyebutkan di tengah ancaman multidimensi tersebut, terdapat potensi ekonomi besar yang selama ini belum tergarap optimal.

Penegasan itu disampaikan Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti, dalam diskusi bertema “Building a Circular Future” yang digelar PT TBS Energi Utama Tbk. (TBS) di Jakarta, Kamis (13/11/25).

“Sekitar 40 persen sampah nasional belum dikelola dengan baik. Lebih dari 80 persen di antaranya berakhir di pembakaran terbuka atau open dumping landfill. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan polusi, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan iklim,” ujar Gundy.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK tahun 2024 menunjukkan total timbunan sampah Indonesia mencapai 34 juta ton.

“Kalau diilustrasikan, jumlah itu setara dengan rangkaian gerbong kereta api yang membentang dari Sabang hingga Merauke,” tambahnya.

Akar Masalah: Tiga Faktor Besar Pemicu Krisis

Penegasan itu disampaikan Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti, dalam diskusi bertema “Building a Circular Future” yang digelar PT TBS Energi Utama Tbk. (TBS) di Jakarta, Kamis (13/11/25).
Foto Sampah. (Istimewa)

Gundy memaparkan terdapat tiga faktor dominan yang memperparah persoalan sampah nasional:

Pertumbuhan penduduk yang pesat
Volume sampah rumah tangga otomatis meningkat mengikuti jumlah populasi.

    Pola konsumsi serba instan
    Dominasi kemasan sekali pakai dan layanan makanan cepat saji memicu lonjakan sampah harian.

    Keterbatasan infrastruktur dan implementasi kebijakan
    Sistem pengelolaan sampah dinilai masih bersifat “tambal sulam” dan tidak konsisten.

    “Regulasi sebenarnya sudah ada, tapi implementasinya sering berhenti di tengah jalan. Banyak daerah bahkan belum memiliki sistem pengelolaan yang solid,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti ketimpangan layanan pengumpulan sampah, minimnya investasi lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum yang menghambat perbaikan sistem nasional.

    Dari Ancaman Menjadi Peluang

    Meski kondisi saat ini masih jauh dari ideal, Prasasti melihat peluang besar di balik persoalan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pengelolaan sampah semakin diminati pelaku usaha dan investor sebagai industri berkelanjutan yang mampu menciptakan green jobs.

    “Tantangan geografis Indonesia memang kompleks, mulai dari logistik hingga biaya tinggi. Tapi potensi ekonominya luar biasa. Pengelolaan sampah bisa menjadi pintu masuk menuju ekonomi sirkular dan transisi hijau,” jelas Gundy.

    Ia menegaskan percepatan solusi hanya dapat dicapai melalui kerja bersama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Kolaborasi lintas sektor, inovasi teknologi, serta investasi pada rantai nilai daur ulang disebut Gundy sebagai kunci transformasi.

    “Kalau ketiganya bisa bersinergi, tumpukan masalah ini bisa kita ubah menjadi tumpukan peluang. Sudah saatnya Indonesia dikenal bukan karena sampahnya, tapi karena solusinya,” tutupnya.* (Sumber: Prasasti Center for Policy Studies)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *