ASOBSI: Bank Sampah Fondasi PSEL, Perkuat Hulu Wajib!

JAKARTA, DMBGLOBAL.CO.ID – Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) kembali menegaskan posisi strategis bank sampah dalam mendukung peta jalan pengelolaan sampah nasional. Hal ini ditekankan seiring dengan rencana pemerintah yang kini tengah gencar mendorong program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Ketua Umum ASOBSI, Wilda Yanti, mengingatkan bahwa teknologi canggih di hilir seperti PSEL tidak akan berjalan efektif tanpa adanya pemilahan sampah yang disiplin di sektor hulu.

Pentingnya Pemilahan Sejak Dini

ASOBSI, sebagai wadah nasional yang mengoordinasikan gerakan bank sampah di berbagai daerah, menilai bahwa pengelolaan sampah dari rumah tangga dan komunitas adalah kunci keberhasilan sistem. Wilda menekankan bahwa jika sampah yang masuk ke fasilitas PSEL masih dalam kondisi tercampur dan basah, efisiensi teknologi akan menurun drastis sementara beban biaya operasional justru membengkak.

Oleh karena itu, keberadaan bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) menjadi krusial sebagai penyedia bahan baku yang terkontrol, mengurangi kontaminasi, serta meningkatkan kualitas residu.

“Hulu adalah kunci. Kalau pemilahan tidak berjalan di masyarakat, maka sebaik apa pun teknologi di hilir akan selalu kewalahan,” kata Wilda kepada wartawan, Minggu (7/12/25).

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Wilda Yanti, Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), menegaskan dukungannya penuh terhadap inisiatif pemerintah dalam mencari solusi berkelanjutan untuk mengatasi krisis sampah di perkotaan.
Wilda Yanti, Ketua Umum Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI), menegaskan dukungannya penuh terhadap inisiatif pemerintah dalam mencari solusi berkelanjutan untuk mengatasi krisis sampah di perkotaan. (Foto: Istimewa)

Lebih dari sekadar gerakan sukarela, ASOBSI menyoroti bahwa penguatan di sektor hulu membawa dampak luas. Selain memastikan konversi energi di PSEL berjalan optimal, pemilahan di sumber membuka peluang ekonomi sirkular, menciptakan lapangan kerja lokal, serta secara signifikan mengurangi timbulan sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Wilda mendorong pemerintah daerah untuk menjadikan bank sampah sebagai mitra resmi dalam sistem pengelolaan sampah terpadu. Dukungan nyata berupa regulasi, pendanaan, pendampingan, hingga integrasi data dan teknologi dinilai sangat mendesak.

“Jika pemerintah serius dengan PSEL, maka serius juga memperkuat aktor di hulu. Bank sampah dan TPS 3R jangan hanya dilihat sebagai pelengkap, tapi sebagai fondasi sistem,” ujar Wilda menegaskan.

Sinergi untuk Keberlanjutan

ASOBSI berharap PSEL tidak berdiri di atas sistem yang rapuh. Sebaliknya, program ini harus ditopang oleh jaringan komunitas yang aktif dan berdaya. Dengan demikian, solusi permasalahan sampah perkotaan dapat berjalan secara berkelanjutan, efisien, dan adil.

Menutup pernyataannya, Wilda kembali menekankan pentingnya arah kebijakan yang berpihak pada pengelolaan berbasis masyarakat.

“Pengelolaan sampah yang kuat selalu dimulai dari hulu. Ketika masyarakat dilibatkan, bank sampah diperkuat, dan TPS 3R berfungsi optimal, maka PSEL akan berjalan lebih efisien dan adil. Di situlah arah kebijakan seharusnya bergerak,” pungkas dia.* (Sumber: Siaran Pers ASOBSI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *