
Jakarta, DMBGlobal – Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah baru bagi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO).
Emiten panas bumi ini sukses mencatatkan realisasi produksi listrik hijau tertinggi sepanjang sejarah perusahaan (all-time high).
Sepanjang tahun lalu, PGEO membukukan total produksi sebesar 5.095 gigawatt hour (GWh), atau naik 5,55% dibandingkan pencapaian 2024 yang sebesar 4.827 GWh.
Efisiensi Operasional dan Tenaga Baru dari Lumut Balai
Kenaikan produksi ini bukanlah kebetulan. Direktur Operasional Pertamina Geothermal Energy, Andi Joko Nugroho, dalam keterangan Earnings Call 2025 mengemukakan rekor produksi tersebut didukung oleh realisasi faktor beban (load factor) yang lebih tinggi.
Selain efisiensi, tambahan kapasitas terpasang sebesar 55 megawatt (MW) dari PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi komersial pada Juni 2025 turut menjadi mesin pendorong utama. Dengan tambahan ini, total kapasitas terpasang PGEO kini perkasa di angka 727 MW, naik dari sebelumnya 672 MW.
“Ke depan, PGE juga terus melakukan optimalisasi aset eksisting, mendorong ekspansi dan pertumbuhan bisnis, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pendapatan masa depan [future revenue streams],” terang Andi Joko Nugroho.
Sebaran Produksi dan Keandalan Mesin yang Nyaris Sempurna
Andi Joko Nugroho menambahkan peningkatan produksi listrik terjadi merata di sejumlah wilayah operasi. Area Kamojang diproyeksikan menyumbang 1.806 GWh, disusul oleh Ulubelu (1.617 GWh), Lahendong (849 GWh), Lumut Balai (714 GWh), serta Karaha (109 GWh).
Keberhasilan ini juga ditopang oleh tingkat reliabilitas sistem yang sangat tinggi. Availability factor atau ketersediaan pembangkit mencapai 98,93%, dengan tingkat gangguan (outage) yang sangat rendah di level 0,41%.
“Perseroan ke depannya akan terus meningkatkan produksi melalui optimalisasi operasional serta pengelolaan pembangkit yang semakin andal dan efisien,” jelasnya.
Ambisi Besar: Investasi US$1,09 Miliar untuk Masa Depan
Menatap jangka panjang, PGEO sudah menyiapkan peta jalan ekspansi yang agresif. Direktur Eksplorasi dan Pengembangan, Edwil Suzandi, menyampaikan empat proyek strategis perusahaan telah resmi masuk dalam Blue Book 2025–2029 oleh Kementerian PPN/Bappenas.
Proyek-proyek tersebut mencakup Lumut Balai Unit 3 & 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary. Tak main-main, total nilai investasi untuk keempat proyek ini mencapai lebih dari US$1,09 miliar.
“Realisasi proyek-proyek ini diproyeksikan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi yang direncanakan beroperasi secara bertahap mulai 2029 hingga 2032. Hal ini sekaligus mempertegas komitmen Perseroan dalam mengembangkan potensi 3 GW panas bumi yang dimiliki,” tutup Edwil.
Rapor Keuangan di Tengah Ekspansi Masif
Dari sisi finansial, PGEO mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 6,29% secara tahunan menjadi US$432,72 juta. Mayoritas pendapatan usaha ini disumbangkan oleh PLTP area Kamojang sebesar US$155,67 juta.
Namun, di tengah pertumbuhan pendapatan, laba bersih perusahaan tahun 2025 tercatat sebesar US$137,69 juta (sekitar Rp2,33 triliun dengan asumsi kurs Rp16.919 per dolar AS). Angka ini mengalami koreksi 14,2% dibandingkan capaian 2024 yang mencapai US$160,49 juta, seiring dengan dinamika operasional dan investasi pengembangan yang sedang berjalan.* (Sumber: Pertamina/PGEO)
