
DMBGLOBAL – Pemerintah Indonesia mempercepat langkah konkret dalam agenda pembangunan berkelanjutan dengan menetapkan target ambisius: pengelolaan 100 persen sampah pada tahun 2029. Strategi ini akan bertumpu pada penguatan ekosistem ekonomi sirkular serta penerapan teknologi pengolahan limbah modern yang diproyeksikan mampu membuka jutaan lapangan kerja baru (green jobs).
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Jumhur Hidayat, menjelaskan bahwa demi mencapai target tersebut, pemerintah tengah mendorong pemanfaatan berbagai inovasi teknologi termutakhir. Sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah ekologi, melainkan komoditas baru yang bernilai ekonomi tinggi.
Beberapa infrastruktur teknologi yang akan dipacu pengembangannya meliputi:
Refuse Derived Fuel (RDF): Mengonversi sampah padat menjadi bahan bakar alternatif penurun emisi.
Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL): Memanfaatkan limbah perkotaan sebagai sumber energi bersih.
Teknologi Pirolisis: Mengurai material sampah secara termal untuk menghasilkan bahan baku industri sekunder.

“Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau. Future jobs are green jobs,” ujar Jumhur dalam keterangan resminya, Senin (1/6/2026).
Menurut Jumhur, akselerasi industri berbasis lingkungan ini secara otomatis memicu lonjakan permintaan terhadap profesi baru yang spesifik. Pekerjaan masa depan seperti analis karbon (carbon analyst), spesialis ekonomi sirkular, ahli energi terbarukan, perencana kota hijau, hingga insinyur lingkungan diperkirakan akan menjadi penopang baru bursa kerja nasional.
Pilar Asta Cita dan Peran Strategis Global
Langkah besar ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mengimplementasikan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kelestarian ekologis sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Jumhur menekankan bahwa negara berkomitmen memastikan seluruh lapangan kerja hijau yang tercipta merupakan pekerjaan yang layak, aman, serta inklusif bagi kesejahteraan masyarakat.
Sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga dan garis pantai terpanjang kedua di dunia, posisi tawar Indonesia di tingkat global sangat krusial. Keberhasilan dalam memulihkan ekosistem lahan gambut, mangrove, laut, serta tata kelola sampah domestik dinilai akan menjadi kontribusi nyata Indonesia dalam menyelamatkan masa depan bumi.
Di akhir keterangannya, mantan Kepala BNP2TKI tersebut secara khusus menantang Generasi Z untuk memimpin gerakan ini. Ia berharap anak muda tidak berhenti pada tahap sekadar peduli, namun melangkah jauh menjadi kreator inovasi.
“Gen Z adalah generasi solusi. Tugas kita sekarang adalah mengubah kepedulian itu menjadi aksi nyata. Dari sekadar awareness menjadi movement, dari kepedulian menjadi inovasi, dan dari diskusi menjadi solusi,” pungkasnya.*
Sumber: Kemenlh
