Menuju Manufaktur Hijau, PT IHI Operasikan PLTS Atap 777,98 kWp di Jakarta Timur

PT IHI gandeng SUN Energy operasikan PLTS 777,98 kWp di Jakarta Timur demi tekan emisi karbon industri kesehatan global.
Fasilitas manufaktur PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) yang berlokasi di Jakarta Timur kini resmi memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi operasionalnya. (dok. SUN Energy)

JAKARTA, DMBGLOBAL – Industri manufaktur layanan kesehatan (healthcare) global kini menghadapi tantangan ganda yang kian mendesak. Di satu sisi, mereka wajib menjaga standar kualitas dan keamanan produk secara ketat, namun di sisi lain harus mampu menurunkan jejak karbon dalam seluruh rantai pasok produksinya.

Merespons meningkatnya tuntutan keberlanjutan (sustainability) dari pasar global sekaligus menjaga efisiensi operasional jangka panjang, PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) resmi mengambil langkah nyata. Perusahaan yang memproduksi kebutuhan medis ini mulai memanfaatkan energi surya di fasilitas manufaktur mereka yang berada di Jakarta Timur.

PT IHI sendiri merupakan bagian dari Kenvue, Inc. yang beroperasi di Indonesia. Selama ini, perusahaan memegang izin edar dan memproduksi berbagai produk kesehatan terpercaya seperti Mylanta, Tylenol, Benadryl/Bactidol, Imodium, Daktarin, dan Motilium. Tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, pabrik di Jakarta Timur ini juga berkontribusi pada kesehatan global lewat jalur ekspor ke Korea Selatan, Filipina, Thailand, hingga Australia.

Dalam mempercepat transisi energi bersih ini, PT IHI berkolaborasi dengan SUN Energy selaku penyedia solusi energi terbarukan terintegrasi. Kemitraan ini diwujudkan melalui pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) On Grid berkapasitas 777,98 kWp yang telah berjalan sejak Februari 2026.

Menjaga Keandalan di Tengah Standar Ketat

Presiden Direktur PT Integrated Healthcare Indonesia, Teerasak Lueuwirat, menegaskan bahwa langkah ini menandai pergeseran paradigma di sektor manufaktur kesehatan. Energi bersih kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai inisiatif sosial atau lingkungan, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

“Langkah ini menunjukkan sektor manufaktur layanan kesehatan mulai memandang energi bersih sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang untuk membangun operasional yang lebih efisien, resilien, dan siap menghadapi tuntutan industri masa depan,” ujar Teerasak dalam keterangan resminya, Senin (8/6/2026).

Teerasak menambahkan, karakteristik industri healthcare berbeda dengan sektor lain karena tidak memiliki fleksibilitas untuk menurunkan standar operasional demi mengejar efisiensi energi. Aktivitas kritikal seperti ruang steril (cleanroom), laboratorium, sistem tata udara (HVAC), logistik rantai dingin (cold-chain logistics), pengolahan air, hingga lini pengemasan memerlukan pasokan listrik yang sangat stabil dan konsisten.

“Oleh karena itu, transisi energi di sektor healthcare membutuhkan solusi yang mampu menjaga reliability (keandalan) operasional sekaligus mendukung target keberlanjutan perusahaan,” imbuhnya.

Instalasi PLTS On Grid di atap pabrik IHI ini diproyeksikan mampu menghasilkan energi sebesar 1.012.503 kWh per tahun. Produksi energi hijau ini diklaim mampu mereduksi emisi karbon sebesar 787,73 ton CO2 per tahun, atau setara dengan dampak positif penanaman lebih dari 13.000 pohon. Seluruh daya yang dihasilkan dimanfaatkan untuk menyokong kebutuhan operasional harian, mulai dari sistem pendingin, pengolahan air, pencahayaan, hingga fasilitas gudang.

Stabilitas Biaya dan Ketahanan Energi

Selain berdampak positif pada dekarbonisasi, pemanfaatan energi surya membantu industri mengontrol biaya energi secara mandiri dalam jangka panjang sekaligus mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga energi konvensional. Langkah ini juga diperkuat dengan penerapan sistem digitalisasi berbasis real-time monitoring sejak awal tahun, yang mendongkrak presisi serta kecepatan pengambilan keputusan operasional.

Sementara itu, CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar, menilai bahwa sektor layanan kesehatan merupakan salah satu industri dengan kebutuhan energi paling kritikal karena standar kualitasnya yang tinggi.

“Transisi energi di sektor ini membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada dekarbonisasi, tetapi juga pada ketahanan energi dan efisiensi operasional jangka panjang. Kami melihat semakin banyak industri mulai memandang energi terbarukan sebagai bagian dari daya saing global,” tutur Jefferson.

Melalui langkah PT IHI, transformasi energi di sektor manufaktur Indonesia terbukti mulai bergerak dari sekadar pemenuhan regulasi (compliance) menuju strategi bisnis inti. Penggunaan energi bersih kini menjadi instrumen vital dalam membangun industri yang lebih kompetitif dan siap menjawab tantangan pasar global yang terus berkembang.*
Sumber: Siaran Pers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *