WONOGIRI, DMBGLOBAL – Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan kini diupayakan menjadi sumber energi alternatif melalui teknologi pirolisis. Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri meresmikan Laboratorium Dharma Ekologi yang mampu mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan gas, Selasa (30/6/2026).
Peresmian laboratorium yang berlokasi di Desa Bulusulur tersebut dilakukan oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan teknologi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Sulaiman, mengatakan inisiatif tersebut berawal dari banyaknya tumpukan sampah plastik di lingkungan Asrama Mahasiswa Buddha. Kondisi itu mendorong kampus mencari solusi agar limbah plastik tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, kampus kemudian menggandeng Yayasan Get Plastic untuk menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah plastik menggunakan teknologi pirolisis. Kegiatan berlangsung selama tujuh hari, mulai 24 hingga 30 Juni 2026, di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi.
Melalui teknologi tersebut, plastik bernilai ekonomi rendah dapat diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar tanpa proses pembakaran terbuka. Selain mengurangi volume sampah, metode ini dinilai mampu menghasilkan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, menjelaskan bahwa kualitas bahan bakar sangat dipengaruhi kondisi bahan baku. Plastik yang diproses harus bersih dan kering agar menghasilkan produk dengan mutu yang optimal.
Ia menyebutkan, mesin pirolisis yang dimiliki STABN Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu siklus selama kurang lebih tiga jam. Dari proses tersebut dihasilkan sekitar lima liter bahan bakar minyak.
Jenis plastik juga menentukan hasil akhir proses pirolisis. Plastik berjenis High-Density Polyethylene (HDPE), Low-Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS) menjadi material yang direkomendasikan. Di antara keempatnya, plastik PP seperti gelas air minum sekali pakai dan botol infus menghasilkan kualitas bahan bakar paling baik. Sebaliknya, plastik PET dan PVC tidak disarankan karena kandungan klorinnya dapat mengganggu proses sekaligus berpotensi merusak peralatan.
Dari proses pirolisis tersebut dihasilkan beberapa jenis bahan bakar, antara lain solar, minyak setara minyak tanah, bensin setara Pertamax, hingga gas cair. Yayasan Get Plastic mengklaim bahan bakar bensin yang dihasilkan memiliki angka Research Octane Number (RON) 92,3. Selain itu, solar hasil pengolahan telah melalui pengujian laboratorium dan dinilai layak digunakan untuk mesin diesel seperti traktor, mesin pertanian, dan generator listrik.
Tidak hanya menghasilkan bahan bakar, residu pengolahan berupa black carbon juga masih memiliki nilai guna. Material tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran media tanam, paving block, briket, maupun produk kerajinan setelah diproses lebih lanjut bersama resin.
Sulaiman menambahkan, Laboratorium Dharma Ekologi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan teknologi pengolahan sampah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Program tersebut akan dikembangkan sebagai Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa sekaligus mendukung pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dan penguatan ekonomi sirkular.
Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan Yayasan Get Plastic dalam menghadirkan solusi atas persoalan sampah plastik. Menurutnya, inovasi tersebut merupakan langkah strategis untuk mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia berharap model pengelolaan sampah berbasis teknologi pirolisis dapat diterapkan di berbagai sektor sehingga budaya memilah sampah sejak dari sumber semakin berkembang. Inovasi tersebut juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi, memperkuat kemandirian energi, serta menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Wonogiri.*
Sumber: Diskomdigi Jateng
