JAKARTA, DMBGLOBAL.CO.ID – Laporan wawasan industri terbaru, Asia Pacific Energy Transition Readiness Index 2025 yang dirilis oleh ABB Energy Industries, memproyeksikan percepatan signifikan dalam adopsi energi hijau.
Penggunaan energi terbarukan diperkirakan akan meningkat lebih dari 20 persen dalam lima tahun ke depan hingga tahun 2030, dengan tenaga surya, air, dan panas bumi sebagai tiga pilar utamanya.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, upaya modernisasi infrastruktur energi di Indonesia terus digenjot, salah satunya melalui peningkatan teknologi di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu, Jawa Barat.
Panas Bumi: Tulang Punggung Kemandirian Energi
Anders Maltesen, President Energy Industries Division Asia ABB, menekankan bahwa pengembangan kapasitas panas bumi memiliki dampak strategis ganda. Tidak hanya memperkuat kemandirian energi nasional, tetapi juga menciptakan sistem kelistrikan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
“Kami percaya bahwa teknologi adalah salah satu pengungkit utama untuk menjadikan energi terbarukan, seperti panas bumi, sebagai sumber listrik yang andal dan dapat terus dikembangkan di Indonesia,” ujar Maltesen, Minggu (21/12/25).
Transformasi Digital di PLTP Wayang Windu

Sebagai implementasi nyata, Star Energy Geothermal (SEG) anak perusahaan Barito Renewables menggandeng ABB untuk melakukan pembaruan teknologi di PLTP Wayang Windu. Pembangkit ini memiliki peran vital sebagai pemasok jaringan listrik Jamali (Jawa, Madura, dan Bali) yang melayani jutaan rumah tangga.
Modernisasi difokuskan pada penerapan sistem kontrol terdistribusi (Distributed Control System/DCS) terbaru pada Unit 1 dan Unit 2.
ABB mengaplikasikan solusi ABB Ability™ Symphony Plus DCS untuk menggantikan sistem lama. Langkah ini memungkinkan SEG mengelola fluktuasi kebutuhan daya secara lebih efektif sekaligus menjaga kestabilan pasokan.
Peningkatan ini mencakup transisi sistem antarmuka manusia-mesin (Human Machine Interface/HMI) dari platform lawas ke platform Symphony Plus (S+). Teknologi yang sama juga diterapkan pada Unit 3 yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan.
“Modernisasi ini tidak hanya meningkatkan skalabilitas, tetapi juga memungkinkan integrasi tanpa hambatan antara unit eksisting dengan unit baru tanpa perlu perombakan infrastruktur besar-besaran,” jelas Maltesen.
Potensi Raksasa yang Belum Tergarap
Langkah modernisasi ini krusial mengingat besarnya potensi panas bumi Indonesia.
Menurut Asosiasi Panas Bumi Indonesia, cadangan panas bumi yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi mencakup hampir separuh (49 persen) dari total cadangan dunia.
Namun, dari potensi sekitar 24.000 MW tersebut, tingkat pemanfaatannya baru mencapai sekitar 10 persen. Saat ini, PLTP Wayang Windu memiliki kapasitas 230,5 MW dan akan bertambah seiring rampungnya Unit 3.
Kontribusi ini melengkapi total kapasitas 910 MW energi panas bumi yang dikelola SEG di wilayah Jawa Barat.
Berdasarkan laporan ABB Index 2025, pasar energi terbarukan diprediksi akan mengalami kenaikan lebih dari 20 persen hingga tahun 2030, dengan fokus utama pada sumber tenaga surya, air, dan panas bumi.
Salah satu proyek kunci dalam transisi ini adalah modernisasi PLTP Wayang Windu yang dikelola oleh Star Energy Geothermal.
Dalam proyek tersebut, teknologi yang diterapkan adalah ABB Ability™ Symphony Plus DCS pada Unit 1, 2, dan 3. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas pasokan listrik bagi jaringan Jamali serta menciptakan integrasi yang mulus antar-unit pembangkit.
Pengembangan ini sangat penting mengingat konteks nasional Indonesia yang memiliki 49 persen cadangan panas bumi dunia, namun hingga kini baru sekitar 10 persen yang berhasil dimanfaatkan.* (Sumber: Kumparan.com)
