JAKARTA, DMBGLOBAL.CO.ID – Kehadiran TPS3R Lenteng Agung dinilai menjadi bagian krusial dari percepatan target Indonesia Bebas Sampah 2029.
Wamen Diaz menjelaskan kehadiran TPS3R kini didorong oleh pemerintah sebagai pelengkap program Waste to Energy (WTE).
“KLH sedang mendorong TPS3R di seluruh Indonesia. Kami telah mengusulkan 1000 TPS3R dan sedang direkap ulang termasuk untuk revitalisasi TPS3R,” tambah Wamen Diaz saat hadir di peresmian TPS3R Sinergi Bersih di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (27/11/25) lalu.
Selain itu, ia juga mengingatkan tentang kaitan erat antara pengelolaan sampah yang buruk dengan kualitas badan air nasional, di mana 73 persen sungai dan danau yang diteliti oleh KLH saat ini tercemar.
“Sisanya 73 persen tercemar. Jadi jangan sampai sampah ini mencemari sungai dan danau, karena nanti air bersih lagi yang menjadi masalah,” ujarnya.
Komitmen Kolaborasi Lintas Sektor

President Director Nestlé Indonesia, Georgios Badaro, menekankan komitmen perusahaannya untuk menciptakan nilai bersama bagi masyarakat dan lingkungan.
“Saya berharap inisiatif ini dapat menginspirasi lebih banyak kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan dunia usaha. Mari kita terus bekerja bersama untuk menciptakan masa depan di mana pertumbuhan dan keberlanjutan dapat berjalan berdampingan,” kata Badaro.
Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menyoroti pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya untuk mengurangi beban TPA Bantar Gebang.
“Timbulan sampah yang terus meningkat membuat kapasitas TPA Bantar Gebang semakin terbatas. Karena itu, pengelolaan sampah dari hulu menjadi semakin penting agar kita dapat menghadirkan perubahan bagi masa depan Jakarta,” jelasnya.
Kapasitas dan Proses Pengelolaan Sampah TPS3R Lenteng Agung
TPS3R Sinergi Bersih Lenteng Agung memiliki kapasitas pengelolaan sampah hingga 42 ton per hari dan melayani 26 RW di lima kelurahan di Jakarta Selatan (Srengseng Sawah, Cipedak, Jagakarsa, Ciganjur, dan Lenteng Agung).
Fasilitas ini menerapkan sistem pemilahan canggih untuk menghasilkan tiga luaran utama:
- Sampah bernilai ekonomis (dijual ke offtaker).
- Bubur organik (dikirim ke pembudidaya Black Soldier Fly/maggot).
- Material Refuse Derived Fuel (RDF) (dimanfaatkan oleh industri semen).
- Residu yang tidak dapat diolah akan dibawa ke TPA Bantar Gebang.
Melalui sinergi ini, pemerintah berharap dapat memperkuat upaya pengurangan sampah plastik, menghambat polusi mikroplastik dan nano plastik, serta membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih bersih dan berkelanjutan menuju Indonesia Bebas Sampah 2029.* (Sumber: Kemenlh.go.id)
