Cara Mudah Memilah Sampah dari Rumah, Mulai dari Organik dan Nonorganik

Poin Penting:

  • Pemilahan sampah dapat dimulai dari kategori organik dan nonorganik.
  • Barang yang masih layak digunakan sebaiknya dipakai kembali atau disalurkan kepada pihak lain.
  • Limbah medis memiliki aturan penanganan khusus dan tidak boleh dicampur dengan sampah rumah tangga.

JAKARTA, DMBGlobal – Kebiasaan memilah sampah dari rumah tidak harus dilakukan dengan banyak kategori sekaligus. Masyarakat dapat memulainya secara sederhana dengan memisahkan sampah organik dan nonorganik, sekaligus memastikan barang yang hendak dibuang memang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok Aldie Nur Pratama mengatakan, penyederhanaan menjadi langkah awal agar kegiatan memilah sampah lebih mudah dilakukan secara konsisten.

Pemilahan sampah dapat dimulai dari kategori organik dan nonorganik.
Diskusi media tentang cara memilah sampah dari rumah secara sederhana dengan membedakan sampah organik dan nonorganik serta mengenali barang yang masih dapat digunakan kembali. (dok. Istimewa)

“Kita bikin mudah dulu, misalnya memilah sampah menjadi 2, organik dan non organik,” ujar Aldie dalam diskusi media yang menjadi bagian dari kampanye World Heart Month dan acara Heart Care Experience: Live Your Best Heart dalam Heart Festival 2026 oleh Siloam Heart Hospital di Jakarta, Sabtu, 26 September.

Menurut Aldie, masyarakat sebaiknya terlebih dahulu mengenali barang yang ada di rumah sebelum memasukkannya ke tempat sampah. Sebab, barang yang sudah tidak dibutuhkan seseorang belum tentu sudah menjadi sampah.

Pakaian yang masih layak pakai, misalnya, dapat diberikan kepada orang lain. Demikian pula kardus, botol, kain, dan berbagai barang lain yang masih memiliki fungsi.

Founder Bank Sampah Induk Rumah Harum Hermansyah mengatakan, kemungkinan pemanfaatan kembali menjadi salah satu pertimbangan ketika material diterima.

“Kalau masih bisa dimanfaatkan secara maksimal, kita terima. Karena itu, sebelum membuang sesuatu, ada baiknya membiasakan satu pertanyaan sederhana: barang ini benar-benar sudah tidak bisa digunakan lagi atau hanya sudah tidak saya perlukan?,” ujar Hermansyah.

Gunakan Kembali Sebelum Menjadi Sampah

Prinsip penggunaan kembali dapat diterapkan sebelum proses pemilahan. Barang yang masih berfungsi tetapi sudah tidak dibutuhkan pemiliknya dapat diberikan kepada orang lain atau disalurkan melalui komunitas yang menerima barang layak pakai.

Jika barang tersebut sudah tidak dapat digunakan kembali, pemilahan baru dilakukan berdasarkan kategori yang sesuai.

Bagi masyarakat yang baru membangun kebiasaan, pemisahan antara sampah organik dan nonorganik dapat menjadi tahap awal. Setelah terbiasa, pemilahan bisa dikembangkan dengan memisahkan material seperti botol plastik, kardus, kertas, dan barang lain yang masih memiliki nilai ekonomi.

Material tersebut selanjutnya dapat ditanyakan kepada bank sampah atau pengelola sampah terpilah di sekitar tempat tinggal.

Namun, masyarakat perlu mengetahui sistem yang berlaku di wilayah masing-masing. Tidak semua pengelola sampah menerima jenis material yang sama.

Informasi tersebut penting agar sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur karena tidak memiliki tujuan pengelolaan yang jelas.

Untuk sampah organik, warga dapat mencari tahu fasilitas pengolahan yang tersedia di lingkungannya. Pemerintah daerah juga memiliki peran dalam menyediakan fasilitas yang mudah dijangkau masyarakat.

Aldie mengatakan, DLHK Kota Depok berupaya mendekatkan fasilitas pengolahan kepada masyarakat, termasuk melalui layanan penjemputan.

“Kami menyediakan yang pertama fasilitasnya kita sediakan, kita dekatkan, kemudian kita jemput dan itu sampai kita olahkan. Kita memiliki 27 unit pengolahan sampah khusus untuk mengolah sampah organik, baik dengan menggunakan kompos, baik dengan menggunakan metode langsung,” kata Aldie.

Barang Layak Pakai Dapat Disalurkan

Pengurangan sampah juga dapat dilakukan dengan memperpanjang masa penggunaan barang. Pakaian dan material tekstil menjadi salah satu contoh yang mudah ditemukan di rumah.

Hermansyah mengatakan, pihaknya memiliki jaringan mitra di masyarakat untuk menyalurkan material tekstil yang masih dapat digunakan.

Barang tersebut dapat disalurkan sesuai kebutuhan, antara lain melalui balai RW, Posyandu, Majelis Taklim, maupun tempat ibadah.

Dengan demikian, barang yang sudah tidak dibutuhkan pemilik tidak langsung berakhir di tempat sampah. Penggunaan kembali atau penyaluran kepada pihak lain dapat memperpanjang usia pakai barang tersebut.

Limbah Medis Memiliki Penanganan Khusus

Meski pemilahan sampah dapat dimulai dengan cara sederhana, masyarakat tetap perlu memahami bahwa tidak semua material dapat diperlakukan seperti sampah rumah tangga.

Limbah yang berasal dari fasilitas kesehatan, termasuk limbah medis, limbah infeksius, obat kedaluwarsa, dan material tertentu lainnya, memiliki jalur penanganan tersendiri.

Hospital Director Heart Siloam Hospital dr. Karina Arifiani, MSc, mengatakan pengelolaan limbah rumah sakit mencakup berbagai jenis.

“Kita mengelola bukan hanya limbah padat, tetapi juga limbah cair dan limbah-limbah lainnya,” ujarnya.

Karena itu, barang atau material yang berasal dari rumah sakit tidak seharusnya langsung dibawa ke bank sampah tanpa mengetahui jenis dan statusnya.

Khusus material medis dan limbah yang berpotensi membahayakan, pengelolaannya harus mengikuti prosedur yang sesuai dengan karakteristik limbah tersebut.

Pada dasarnya, kebiasaan memilah sampah dapat dibangun dari langkah kecil di rumah. Masyarakat tidak harus langsung menguasai seluruh kategori sampah, tetapi dapat memulai dengan membedakan barang yang masih dapat digunakan dan barang yang benar-benar harus dibuang.

Setelah itu, sampah dapat dipisahkan menjadi kategori sederhana yang mampu dilakukan secara konsisten. Tahap berikutnya adalah memastikan ke mana material tersebut harus disalurkan atau diolah.

Dengan cara tersebut, memilah sampah dapat menjadi kebiasaan sehari-hari yang berkembang secara bertahap, sekaligus membantu mengurangi jumlah barang yang berakhir sebagai sampah.*

Sumber: Rilis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *