
Bandung, DMBGLOBAL – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kini tengah mempercepat langkah strategis untuk menanggulangi ancaman penumpukan sampah kota yang mencapai angka ratusan ton setiap harinya.
Salah satu fokus utamanya adalah mendorong seluruh pasar tradisional di bawah naungan Perumda Pasar untuk memiliki sistem pengolahan sampah mandiri.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa saat ini Bandung dihantui risiko penumpukan sampah hingga 200 ton per hari.
Dari total tersebut, baru sekitar separuhnya yang berhasil tertangani melalui kolaborasi dengan berbagai fasilitas pengolahan.
“Saat ini ada potensi sisa sampah sekitar 200 ton harian. Sekitar 100 ton sudah kita tangani lewat kerja sama dengan fasilitas pengolahan RTF,” jelas Farhan melalui keterangannya di akun Instagram resmi Halo Bandung, Senin (19/1/26).
Strategi Pemilahan dan Optimalisasi Pasar

Untuk menangani sisa sampah yang belum terkelola, Pemkot Bandung terus menggencarkan gerakan pemilahan di sumbernya.
Hanya sampah jenis residu atau yang benar-benar tidak bisa diolah kembali yang akan dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Farhan menyoroti pentingnya peran pasar dalam ekosistem ini. Ia mencontohkan Pasar Gedebage yang telah sukses mengolah sampah hingga 25 ton per hari.
Kesuksesan ini diharapkan bisa diduplikasi oleh pasar-pasar lain di Kota Bandung.
Beberapa poin penting dalam rencana ini meliputi:
- Negosiasi Antar-Lembaga: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sedang menyinkronkan regulasi dengan Perumda Pasar untuk penyediaan lahan pengolahan.
- Kemitraan Strategis: Melibatkan pihak swasta (investor) untuk mendanai teknologi pengolahan, seperti yang mulai dijajaki di kawasan Pasar Caringin.
- Keadilan Regulasi: Pemkot tengah menghitung pembagian kewajiban antara pemerintah dan pengelola agar kerja sama tetap sesuai koridor hukum.
Menuju Sistem Berkelanjutan
Langkah mendorong pasar mengelola sampahnya sendiri bukan sekadar solusi jangka pendek untuk menghindari penumpukan, melainkan bagian dari visi besar menciptakan sistem tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.
“Kami sedang menghitung kewajiban tiap pihak. Tujuannya agar kerja sama ini saling menguntungkan dan tidak menabrak aturan yang ada,” tambah Farhan.
Dengan adanya sentralisasi pengolahan di titik-titik produksi sampah besar seperti pasar, beban TPA diharapkan berkurang drastis dan risiko krisis sampah di Kota Kembang dapat dihindari.* (Sumber: prfmnews.pikiran-rakyat.com)
