Potong dan Buang: Mengapa Produksi Film Begitu Haus Energi dan Sampah?

Intip jejak karbon industri film, emisi transportasi setara 335 kali keliling dunia. Simak solusi hijau untuk sinema berkelanjutan.
Ilustrasi jejak emisi karbon di industri perfilman dunia. (Freepik)

Jakarta, DMBGlobal – Siapa sangka, di balik adegan estetik yang kita tonton sambil makan popcorn, ada jejak karbon yang luar biasa “gemuk”.

Laporan terbaru dari BAFTA Albert mengungkap sisi lain industri layar lebar di Inggris yang selama ini tersembunyi di balik lampu studio yang silau.

Kemudahan yang Mematikan

Pernah membayangkan berapa banyak emisi yang dihasilkan satu film blockbuster? Rata-rata mencapai 3.370 ton CO2. Angka ini setara dengan menyetir mobil mengelilingi dunia sebanyak 335 kali!

Ironisnya, penyumbang terbesar bukan pada efek ledakan di layar, melainkan pada hal-hal logistik:

  • 65% emisi berasal dari mondar-mandir kendaraan dan perjalanan udara.
  • 21% emisi habis hanya untuk konsumsi energi di lokasi syuting.

Budaya belanja properti online yang instan juga menambah beban karbon karena jalur pengiriman yang panjang.

Dilema “Sekali Pakai” Departemen Seni

Departemen seni adalah “pesulap” yang membangun dunia fisik dalam film. Namun, mereka juga menjadi penyumbang sampah terbesar. Sekitar 800.000 ton material sisa produksi di Inggris dibuang begitu saja ke TPA.

Alasannya klasik: waktu dan uang. Kru film sering kali dikejar jadwal yang sangat ketat sehingga tak punya waktu untuk melacak “karbon terkandung” dalam material mereka.

Menghancurkan set dan membuangnya ke tempat sampah dianggap lebih murah daripada membayar sewa gudang penyimpanan untuk digunakan kembali di film berikutnya.

Solusi: Saatnya Berhenti “Akting” Peduli Lingkungan

Intip jejak karbon industri film, emisi transportasi setara 335 kali keliling dunia. Simak solusi hijau untuk sinema berkelanjutan.
Foto ilustrasi jejak emisi karbon dari industri perfilman dunia. (Freepik)

Banyak rumah produksi besar sudah mulai memajang janji “go green”, namun eksekusinya masih belang-belang. Perubahan nyata butuh lebih dari sekadar jargon; butuh ekonomi sirkular di lokasi syuting.

Beberapa langkah konkret yang mulai dilirik adalah:

  • Sewa & Lokal: Berhenti membeli properti baru, mulai menyewa atau mencari barang bekas lokal.
  • Lampu & Listrik: Migrasi total ke teknologi LED dan kendaraan listrik untuk kru.
  • Pola Pikir Pemimpin: Produser harus berani mengalokasikan anggaran khusus untuk dekarbonisasi sejak tahap naskah ditulis.

Di tahun 2026 ini, krisis iklim bukan lagi fiksi ilmiah. Industri film harus membuktikan mereka bisa menyelamatkan bumi, bukan hanya di dalam skenario, tapi juga di dunia nyata.* (Sumber: phys.org)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *