Bisnis Rendah Karbon Jadi Strategi Pertamina Menuju NZE 2060

Pertamina mencatat bisnis rendah karbon mencapai 101% target RKAP 2026 melalui biofuel, bioethanol, dan efisiensi energi.
Bisnis rendah karbon Pertamina melampaui target RKAP 2026, didukung program biofuel, bioethanol, dan dekarbonisasi. (Foto-Gedung Pertamina/dok. Pertamina Persero)

JAKARTA, DMBGlobal – PT Pertamina (Persero) memperkuat pengembangan bisnis rendah karbon sebagai bagian dari strategi transformasi energi perusahaan. Hingga semester I 2026, kinerja bisnis rendah karbon Pertamina tercatat mencapai 101 persen dari target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bisnis yang berorientasi pada pengurangan emisi terus menjadi bagian penting dalam strategi keberlanjutan Pertamina Group.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan pengembangan bisnis rendah karbon berjalan seiring dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam kegiatan perusahaan.

“Sebagai perusahaan energi kelas dunia, Pertamina berkomitmen menjalankan ESG sesuai dengan standar dunia. Dekarbonisasi Pertamina juga merupakan komitmen Perusahaan menjalankan target Pemerintah mencapai NZE pada tahun 2060,” ujar Baron dalam keterangan tertulis, Minggu (9/8/2026).

Menurut Baron, sejumlah program menjadi penopang pencapaian kinerja bisnis rendah karbon tersebut. Di antaranya pengembangan bioethanol, biofuel, serta berbagai langkah peningkatan efisiensi energi.

“Pencapaian ini didukung oleh beberapa program utama seperti bioethanol, biofuel, dan efisiensi energi yang mampu melampaui target yang telah ditetapkan,” katanya.

Selain pengembangan bisnis rendah karbon, Pertamina juga mencatat hasil positif dalam program dekarbonisasi. Pada semester I 2026, realisasi pengurangan emisi karbon Pertamina Group mencapai 118 persen dibandingkan target yang telah ditetapkan dalam RKAP.

Kinerja keberlanjutan Pertamina juga mencakup aspek tata kelola dan sosial. Program seperti sustainable procurement, sustainability budget tagging, serta pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan mencatat capaian 102 persen terhadap target.

Baron menilai pencapaian tersebut mencerminkan pelaksanaan program ESG yang semakin terintegrasi dengan kegiatan operasional dan strategi bisnis perusahaan.

“Keberhasilan ini mencerminkan pelaksanaan program yang efektif terutama pada aspek tata kelola, sosial, dan sistem pendukung keberlanjutan,” ujarnya.

Implementasi ESG Pertamina juga mendapat perhatian dari perusahaan luar negeri. Pada 24 Juni 2026, Telekom Berhad Malaysia mengunjungi Pertamina untuk mempelajari penerapan strategi keberlanjutan yang mencakup dekarbonisasi, transisi energi, strategi bisnis, dan pengembangan masyarakat melalui program Desa Energi Berdikari (DEB).

Di tingkat internasional, Pertamina turut berpartisipasi dalam Oil & Gas Decarbonization Charter (OGDC) 2026. Keterlibatan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung agenda pengurangan emisi di sektor minyak dan gas.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa bisnis rendah karbon tidak hanya ditempatkan sebagai program keberlanjutan, tetapi juga menjadi bagian dari arah pengembangan bisnis Pertamina. Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat daya saing perusahaan sekaligus mendukung upaya Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.*
Sumber: Rilis Pertamina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *