Blockchain Berpotensi Tingkatkan Efisiensi Perdagangan Karbon, Terungkap dalam Studi Terbaru

Riset terbaru: Perdagangan karbon terbukti turunkan emisi 18%, sementara efektivitas pajak karbon masih diragukan dalam studi global ini.
Studi global di Management Science ungkap perdagangan karbon lebih efektif daripada pajak karbon, turunkan emisi 18% dan dorong energi terbarukan 62%. (Foto Ilustrasi/Freepik)

DMBGlobal – Inovasi teknologi blockchain mulai menunjukkan perannya dalam meningkatkan efisiensi pasar karbon global. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Sustainable Futures mengungkapkan bahwa penerapan teknologi blockchain pada platform perdagangan karbon dapat meningkatkan efisiensi harga, terutama pada kondisi likuiditas yang rendah.

Penelitian yang menganalisis data transaksi harian dari platform perdagangan karbon berbasis blockchain antara tahun 2020 hingga 2023 ini menemukan bahwa meskipun biaya transaksi yang lebih tinggi kerap dipandang negatif, hal tersebut justru dapat menjadi sinyal kepercayaan investor terhadap infrastruktur yang aman di pasar keberlanjutan yang tidak likuid.

Mengatasi Kelemahan Pasar Karbon Konvensional

Penelitian di Management Science menemukan perdagangan karbon lebih unggul dari pajak karbon. Emisi turun 18%, penggunaan energi terbarukan melonjak 62% di negara penerap.
Studi global mengungkap perdagangan karbon lebih efektif daripada pajak karbon dalam menekan emisi hingga 18 persen dan mendorong penggunaan energi terbarukan. (Foto Ilustrasi/freepik)

Pasar karbon tradisional selama ini menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya transparansi, praktik double counting, aktivitas penipuan, dan biaya transaksi yang tinggi. Kondisi ini menggerus kepercayaan pasar dan menghambat investasi swasta dalam instrumen keuangan lingkungan.

Blockchain hadir sebagai solusi dengan menawarkan transparansi yang lebih baik melalui sistem buku besar terdistribusi yang tidak dapat diubah (immutable ledger). Teknologi ini memungkinkan verifikasi transaksi, mencegah manipulasi, serta memastikan setiap kredit karbon bersifat unik dan hanya dapat diklaim oleh satu pihak.

Platform seperti Toucan Protocol, KlimaDAO, dan Moss Earth kini telah mengimplementasikan teknologi ini dengan mengubah kredit karbon menjadi token digital yang dapat diperdagangkan dalam ekosistem keuangan terdesentralisasi (decentralized finance/DeFi). Kontrak pintar (smart contracts) memungkinkan transaksi dilaksanakan secara otomatis, menghilangkan perantara, dan mencatat semua perdagangan dalam buku besar yang transparan.

Tantangan yang Masih Membayangi

Studi global mengungkap perdagangan karbon lebih efektif daripada pajak karbon dalam menekan emisi hingga 18 persen dan mendorong penggunaan energi terbarukan. (Foto Ilustrasi/Istimewa)
Studi global mengungkap perdagangan karbon lebih efektif daripada pajak karbon dalam menekan emisi hingga 18 persen dan mendorong penggunaan energi terbarukan. (Foto Ilustrasi/Istimewa)

Meskipun menjanjikan, integrasi blockchain dalam perdagangan karbon masih menghadapi sejumlah kendala. Penerimaan regulasi menjadi tantangan utama karena belum ada kerangka hukum yang mengatur perdagangan karbon berbasis token di banyak yurisdiksi .

Selain itu, kekhawatiran lingkungan juga muncul terkait jejak karbon dari blockchain itu sendiri, khususnya yang menggunakan mekanisme konsensus proof-of-work yang boros energi. Upaya peralihan ke proof-of-stake dan arsitektur berkelanjutan lainnya tengah dilakukan untuk mengatasi masalah ini .

Para peneliti menekankan bahwa studi ini memberikan wawasan berharga bagi pembuat kebijakan, regulator, dan investor dalam merancang pasar karbon digital yang tangguh, efisien, dan dapat diskalakan. Dengan semakin banyaknya investor institusional yang mencari opsi terdesentralisasi untuk pelaporan keberlanjutan, analisis empiris seperti ini menjadi semakin penting.* (Sumber: phys.org)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *