Cara Warga Tangsel Kurangi Beban TPA Cipeucang dengan Teba Komposter

Warga Ciputat Tangsel adopsi Teba Komposter asal Bali untuk olah sampah organik secara mandiri. Solusi nyata atasi darurat sampah di TPA. Potret demonstrasi praktik Teba Komposter di Kantor Kecamatan Ciputat pada Rabu (17/12/25). (Foto: Istimewa)
Warga Ciputat Tangsel adopsi Teba Komposter asal Bali untuk olah sampah organik secara mandiri. Solusi nyata atasi darurat sampah di TPA. Potret demonstrasi praktik Teba Komposter di Kantor Kecamatan Ciputat pada Rabu (17/12/25). (Foto: Istimewa)

TANGERANG SELATAN, DMBGLOBAL.CO.ID – Kondisi darurat sampah yang menyelimuti Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memicu munculnya inisiatif mandiri dari tingkat akar rumput.

Terbatasnya kapasitas operasional TPA Cipeucang mendorong warga untuk beralih ke pengelolaan sampah organik berbasis lingkungan dengan mengadopsi kearifan lokal masyarakat Bali, yakni metode teba komposter.

Langkah inovatif ini mulai disosialisasikan secara intensif kepada warga di wilayah Kecamatan Ciputat.

Melalui demonstrasi yang melibatkan para Lurah dan perwakilan RW, program ini diproyeksikan menjadi kunci untuk memangkas volume sampah rumah tangga secara signifikan di sumbernya, sehingga beban TPA dapat berkurang.

Efektivitas Pengolahan di Tingkat RW

Ketua RW 08 Kelurahan Ciputat, Iwan Rosyadi (58), menyambut positif kehadiran teba komposter.

Baginya, sistem ini menawarkan solusi praktis agar sampah organik tidak lagi menumpuk dan mencemari lingkungan pemukiman.

“Program ini sangat efektif. Kalau berjalan, kita tidak lagi bergantung pada TPA. Sampah organik yang biasanya menimbulkan bau bisa langsung diolah di wilayah,” ujarnya.

Iwan mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan implementasi sistem ini sejak dua bulan lalu, yang diintegrasikan dengan program bank sampah untuk limbah anorganik.

Ia meyakini kesuksesan program ini bergantung pada komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat.

“Kalau mau sebenarnya bisa. Tinggal kemauan dan keberanian mencoba. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?” tegas Iwan.

Teknis dan Keunggulan Teba Komposter

Atasi darurat sampah, warga Ciputat terapkan metode Teba Komposter. Mampu urai limbah organik hingga 70% menjadi humus bagi lingkungan. Potret salah satu Teba Komposter di wilayah Tabanan, Bali. (Istimewa)

Dalam demonstrasi yang dilakukan di Kantor Kecamatan Ciputat pada Rabu (17/12/25), penggiat lingkungan Tangerang Selatan, Anjar Deliawan, memaparkan keunggulan metode ini.

Teba komposter dirancang untuk menangani sampah organik yang secara volume merupakan penyumbang terbesar masalah lingkungan.

“Konsentrasi kami adalah membantu pemerintah dengan solusi konkret. Sampah organik jumlahnya paling besar dan jika tidak dikelola akan menimbulkan bau serta gangguan lingkungan,” jelas Anjar.

Secara fisik, teba komposter merupakan lubang resapan sedalam 2,5 meter. Desainnya fleksibel; bisa berbentuk kotak berukuran 1×1 meter atau lingkaran dengan diameter 80 sentimeter.

Kapasitasnya cukup masif, mampu menampung hingga 2,5 ton sampah dengan efisiensi penyusutan yang tinggi.

“Dari 1 ton sampah, hasil akhirnya tinggal sekitar 300 kilogram,” tambah Anjar.

Mengubah Sampah Menjadi Pupuk (Tamsiruga)

Proses dekomposisi alami ini memakan waktu sekitar enam hingga delapan bulan. Sisa penguraian tersebut nantinya akan menjadi humus yang kaya nutrisi.

Di Ciputat, hasil kompos ini telah dimanfaatkan untuk mendukung program tanaman konsumsi rumah tangga (tamsiruga), seperti budidaya cabai, tomat, dan sayuran lainnya.

Inisiatif ini hadir di tengah sorotan publik terhadap tumpukan sampah di berbagai sudut jalan protokol Tangsel dalam sepekan terakhir.

Penumpukan tersebut dipicu oleh proses penataan di TPA Cipeucang yang sempat menghambat distribusi sampah kota.

Dengan adanya teba komposter, warga berharap krisis serupa tidak terulang dan pengelolaan sampah menjadi lebih berdikari.* (Sumber: Beritasatu.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *