
BANTUL, DMBGLOBAL – Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika halaman Masjid Al-Muharram di Dusun Brajan, Kabupaten Bantul, mulai dipenuhi warga.
Mereka datang bukan membawa sajadah atau Al-Qur’an seperti lazimnya jemaah yang menuju rumah ibadah.
Di tangan mereka justru tergenggam kantong plastik, kardus bekas, botol minuman, kaleng, hingga peralatan rumah tangga yang sudah tak lagi digunakan.
Bagi orang yang baru pertama kali menyaksikannya, pemandangan itu mungkin terasa janggal. Namun, tidak ada seorang pun yang sedang membuang sampah. Mereka datang untuk bersedekah.
Di teras masjid, para relawan bekerja tanpa tergesa. Botol plastik dipisahkan dari kardus, logam dikelompokkan tersendiri, sementara sampah organik diarahkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak atau diolah menjadi produk lain.
Tak terlihat tumpukan sampah yang berantakan ataupun aroma menyengat seperti di tempat pembuangan. Yang tampak justru semangat gotong royong yang menghidupkan suasana, diselingi canda ringan di antara para relawan.
Di tengah aktivitas itu, seorang pria berkemeja kaus putih berjalan menyapa warga satu per satu.
Senyumnya ramah, tutur katanya tenang, tetapi sarat keyakinan.
Ia adalah Ananto Iswaro, penerima penghargaan Kalpataru 2026 kategori Perintis Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), sekaligus penggagas Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid.
Di serambi Masjid Al-Muharram, perbincangan bersama Ananto berlangsung hampir satu jam.
Didampingi Yustinus Ade Stirman dan Danang Budi Santoso dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa (Pusdal LH Jawa), ia bercerita tentang perjalanan gerakan yang lahir dari persoalan sederhana, tetapi menyentuh akar persoalan lingkungan di masyarakat.
Ananto menyebut gaya komunikasinya sebagai “sersan”—serius, tetapi santai. Cara penyampaiannya memang ringan, namun gagasan yang dibawanya mengandung perubahan besar.
“Saya tidak pernah meminta uang kepada masyarakat. Saya hanya meminta sampahnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi fondasi dari gerakan yang kini menginspirasi banyak orang.
Selama bertahun-tahun, masyarakat memandang sampah sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan.
Begitu keluar dari rumah, urusan dianggap selesai. Pola pikir itulah yang menurut Ananto menjadi pangkal berbagai persoalan lingkungan.
Baginya, persoalan sampah bukan semata-mata soal teknologi atau minimnya fasilitas pengelolaan.
Yang lebih mendasar adalah cara manusia memandang benda yang telah selesai digunakan.
Ketika sampah dianggap tidak lagi memiliki nilai, rasa tanggung jawab terhadapnya ikut hilang.
Di Brajan, cara pandang itu perlahan diubah.
Sampah tidak lagi diposisikan sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang masih menyimpan manfaat.
Nilai ekonominya mungkin kecil jika dihitung per botol atau per lembar kardus. Namun, ketika dikumpulkan secara bersama-sama, nilainya berubah menjadi kekuatan sosial.
Hasil penjualan sampah digunakan untuk berbagai kegiatan kemanusiaan, mulai dari membantu biaya pendidikan anak yatim, pengobatan warga kurang mampu, penyediaan paket sembako bagi janda lanjut usia, pengiriman bantuan air bersih ke daerah yang mengalami kekeringan, hingga mendukung bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina.
Di titik itulah sampah kehilangan citra buruknya. Ia berubah menjadi medium kepedulian yang menghubungkan lingkungan dengan kemanusiaan.
Bagi Ananto, keberhasilan gerakan ini bukan diukur dari banyaknya tonase sampah yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari perubahan perilaku masyarakat.
Ketika warga mulai terbiasa memilah sampah dari rumah, membawa hasil pilahan ke masjid, dan memahami bahwa setiap botol plastik memiliki nilai manfaat bagi sesama, maka perubahan sesungguhnya sedang berlangsung.
Masjid pun menemukan peran baru. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang belajar, pusat pemberdayaan masyarakat, sekaligus simpul gerakan lingkungan yang tumbuh dari kesadaran bersama.
“Sampah itu bukan barang yang habis nilai gunanya. Ia hanya berpindah fungsi. Kalau kita kelola dengan benar, manfaatnya bisa kembali kepada manusia,” kata Ananto.
Pesan itu terasa sederhana, tetapi menggambarkan filosofi yang selama ini ia perjuangkan.
Di Masjid Al-Muharram, sedekah tidak selalu diwujudkan dalam bentuk uang. Sebotol plastik bekas, kardus yang tak lagi terpakai, atau kaleng yang nyaris terlupakan, dapat menjadi jalan bagi lahirnya manfaat baru.
Di sebuah sudut Dusun Brajan, sampah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan. Ia memulai perjalanan baru menjadi sedekah yang menghidupkan lingkungan sekaligus menghadirkan harapan bagi sesama.*
Sumber: Humas KLH
