Industri Pakaian Global Dinilai Lambat Pangkas Emisi Karbon, Pabrik Besar Jadi Penyumbang Polusi Terbesar

Laporan Cascale mengungkap industri pakaian global masih lambat menekan emisi karbon. Pabrik besar dan ketergantungan batu bara jadi penyebab utama. (Unsplash)

DMBGLOBAL – Laporan Terbaru Industri Fashion Dunia Masih Lambat Kurangi Emisi Karbon

Industri pakaian global dinilai belum menunjukkan kemajuan berarti dalam menekan emisi karbon. Laporan terbaru dari organisasi Cascale menyebut upaya dekarbonisasi di sektor ini masih berjalan lambat dan belum cukup untuk mengejar target iklim dunia.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa berbagai inisiatif keberlanjutan yang selama ini digaungkan industri fashion belum mampu menurunkan emisi secara signifikan dalam rantai produksi global.

Analisis Data Energi Pabrik

Cascale organisasi yang sebelumnya dikenal sebagai Sustainable Apparel Coalition menganalisis penggunaan energi di pabrik-pabrik pakaian dan tekstil selama periode 2023 hingga 2024.

Penelitian dilakukan menggunakan alat penilaian dampak lingkungan bernama Higg Facility Environmental Module, yang digunakan untuk mengukur efisiensi energi dan emisi karbon di fasilitas produksi.

Fokus pada Rantai Produksi Utama

Laporan Cascale mengungkap industri pakaian global masih lambat menekan emisi karbon. Pabrik besar dan ketergantungan batu bara jadi penyebab utama. (Unsplash)

Kajian tersebut menyoroti dua tahapan utama dalam rantai produksi industri pakaian, yakni pabrik pembuat produk jadi (tier 1) serta pabrik pengolah bahan baku atau kain (tier 2).

Kedua tahap produksi ini dikenal sebagai penyumbang terbesar konsumsi energi dalam industri apparel global.

Indikator Baru Mengukur Polusi

Dalam laporan ini, peneliti menggunakan ukuran baru yang disebut Effective Energy Carbon Intensity (EECI) untuk mengukur besarnya emisi karbon dari penggunaan energi di pabrik.

Metode ini mengonversi konsumsi listrik menjadi estimasi jumlah bahan bakar fosil yang digunakan untuk menghasilkan listrik tersebut, sehingga memungkinkan perbandingan yang lebih akurat antara berbagai jenis energi.

Negara Produsen Jadi Sorotan

Penelitian Cascale mencakup pabrik-pabrik yang beroperasi di negara produsen pakaian terbesar dunia, seperti China, India, Bangladesh, Vietnam, Turkiye, Pakistan, dan Sri Lanka.

Di beberapa negara seperti China, Turkiye, dan Vietnam, tingkat polusi antar pabrik relatif seragam. Namun di negara lain seperti India dan Pakistan, perbedaan emisi antar fasilitas produksi sangat mencolok.

Polusi Terkonsentrasi di Segelintir Pabrik

Laporan tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar emisi karbon industri apparel justru berasal dari sejumlah kecil pabrik berukuran besar yang memiliki konsumsi energi sangat tinggi.

Pabrik-pabrik tersebut menghasilkan polusi yang jauh lebih besar dibandingkan fasilitas produksi lainnya.

Strategi Pengurangan Emisi

Karena itu, para peneliti menilai bahwa fokus perbaikan pada pabrik besar dapat memberikan dampak lebih cepat terhadap penurunan emisi global.

Pendekatan ini dianggap lebih efektif dibandingkan melakukan perbaikan secara merata di seluruh fasilitas produksi.

Kerja Sama Rantai Pasok Dibutuhkan

Cascale menegaskan bahwa pengurangan emisi karbon di industri pakaian tidak bisa dilakukan secara parsial. Upaya tersebut membutuhkan kerja sama dari seluruh rantai pasok, termasuk produsen, pemasok, dan merek global.

Investasi besar juga diperlukan untuk mengganti teknologi produksi berbasis bahan bakar fosil dengan sistem energi yang lebih bersih.

Emisi Industri Fashion Masih Meningkat

Temuan ini sejalan dengan laporan organisasi nirlaba Apparel Impact Institute yang menyebut emisi gas rumah kaca sektor pakaian meningkat sekitar 7,5 persen pada periode 2022 hingga 2023.

Data tersebut menunjukkan bahwa industri fashion masih menghadapi tantangan besar dalam upaya mencapai target pengurangan emisi global.

Ketergantungan pada Batu Bara

Salah satu penyebab utama tingginya emisi adalah ketergantungan industri terhadap batu bara sebagai sumber energi utama.

Batu bara bahkan menyumbang sekitar 31 persen dari total konsumsi energi di sektor apparel global.

Energi Terbarukan Masih Minim

Laporan Cascale mengungkap industri pakaian global masih lambat menekan emisi karbon. Pabrik besar dan ketergantungan batu bara jadi penyebab utama. (Freepik)

Di sisi lain, penggunaan energi terbarukan di industri ini masih sangat terbatas. Meskipun sejumlah pabrik mulai beralih ke energi bersih, kontribusinya baru mencapai sekitar 2 persen dari total konsumsi energi.

Angka tersebut bahkan tidak mengalami peningkatan antara tahun 2023 dan 2024, menunjukkan proses transisi energi berjalan sangat lambat.

Target Iklim Global Terancam

Para peneliti menilai bahwa sekadar mengganti batu bara dengan energi terbarukan tidak akan cukup untuk mencapai target iklim global.

Hal ini karena banyak negara produsen pakaian masih memiliki sistem jaringan listrik dengan tingkat emisi karbon yang tinggi.

Kondisi tersebut membuat industri fashion dunia harus melakukan transformasi yang jauh lebih besar jika ingin benar-benar menekan emisi karbon dalam beberapa tahun ke depan.* (Sumber: Cascale)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *