Logistik Hijau: Menakar Ambisi Indonesia Menuju Emisi Rendah Karbon 2030

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. (Dok. Humas Kemenhut)

Jakarta, DMBGLOBAL – Sektor logistik nasional mulai memasuki fase transformasi besar.

Tidak lagi sekadar berperan sebagai penggerak distribusi barang, industri ini kini memosisikan diri sebagai pilar strategis dalam mendukung komitmen iklim Indonesia, khususnya menuju target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 serta penurunan emisi dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC).

Semangat tersebut mengemuka dalam forum Green Logistics Talk bertajuk “Measuring, Reducing, and Managing Carbon Footprint in Logistics for Indonesia’s Climate Commitment” yang digelar di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku usaha, hingga pakar lintas kawasan untuk merumuskan sistem logistik yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Project Director FOLU NC-1 sekaligus Dewan Penasihat Ahli Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Agus Justianto, menegaskan pengelolaan emisi bukan berarti memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Justru sebaliknya, langkah ini menjadi fondasi pembangunan yang bertanggung jawab.

“Pendekatan yang kita dorong bukan menghentikan pembangunan, tetapi memastikan setiap aktivitas ekonomi berjalan lebih efisien, bijak, dan berkelanjutan,” ujar Agus.

Indonesia menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU) menjadi penyerap bersih emisi pada 2030, dengan target penurunan mencapai 140 juta ton CO₂e.

Keberhasilan ambisi tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada efisiensi sektor transportasi dan distribusi.

“Dunia usaha, termasuk sektor logistik, memiliki peran besar melalui efisiensi energi, inovasi teknologi, serta penerapan sistem pengukuran dan pelaporan emisi yang akuntabel,” tambahnya.

Komitmen Sektor Swasta: Logistik sebagai Nadi Hijau

Agus Justianto (FOLU NC-1) dan ANL Logistics tegaskan pentingnya pengukuran jejak karbon di sektor distribusi. Intip langkah nyata industri logistik Indonesia dalam menekan emisi gas rumah kaca menuju ekonomi hijau global. (Dok. Istimewa)

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan geografis yang kompleks.

Mobilitas barang antarpulau menjadi tulang punggung perekonomian, namun juga berkontribusi pada tingginya jejak karbon.

Founder PT Arrakasta Nusalink Logistik Indonesia (ANL Logistics), Netty Sri Rejeki, menegaskan kesiapan pihaknya melakukan reformasi sistemik menuju logistik rendah karbon.

“Sebagai negara kepulauan, logistik adalah nadi konektivitas nasional. Namun setiap kilometer perjalanan memiliki jejak karbon, dan di sinilah tanggung jawab kami dimulai,” ungkap Netty.

Ia menjelaskan ANL Logistics mulai memperkuat standar kesehatan, keselamatan, dan lingkungan (HSE) serta merencanakan penambahan armada rendah emisi.

“Kami berkomitmen membangun sistem logistik yang lebih tangguh, rendah karbon, dan berdaya saing global,” tegasnya.

Langkah proaktif ANL Logistics mendapat apresiasi dari Juliana, Global Vice Chairperson Women in Logistics and Transportation (WILAT) Asia Tenggara.

Ia menyebut ANL sebagai pionir dalam organisasinya yang telah melakukan perhitungan emisi karbon di seluruh lini kegiatan.

“Saya berharap langkah ini akan diikuti oleh para pengusaha logistik yang ada di Indonesia,” tutur Juliana.

Ia juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.

Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi kunci untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat green supply chain di tingkat regional maupun global.

“Kita perlu mendorong kesadaran praktisi industri supply chain dan logistik untuk bergerak bersama menjadikan Indonesia sebagai pusat green supply chain di Asia Tenggara maupun global,” kata Juliana.

Standar Internasional dan Optimisme ke Depan

Langkah menuju logistik hijau juga sejalan dengan tren industri global. Sebelumnya, PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) telah menginisiasi program Green Freight Logistics yang mengacu pada standar internasional ISO 14083 terkait penghitungan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi dan logistik.

Sinergi antara kebijakan pemerintah — termasuk capaian rehabilitasi hutan FOLU NC-1 seluas 17 ribu hektare — dan inovasi sektor logistik diyakini mampu memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi hijau dunia.

Transformasi ini menandai babak baru logistik bukan lagi sekadar urusan distribusi, melainkan bagian penting dari strategi nasional menuju masa depan rendah karbon 2030. (Metrotvnews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *