Penyelamatan DAS Citarum, Menteri LH: Cisanti Adalah Benteng Pertama Ketahanan Air

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan perlindungan kawasan hulu di Situs Cisanti, kaki Gunung Wayang, merupakan fondasi mutlak bagi keberlanjutan ekosistem Sungai Citarum.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan perlindungan kawasan hulu di Situs Cisanti, kaki Gunung Wayang, merupakan fondasi mutlak bagi keberlanjutan ekosistem Sungai Citarum. (Foto: Dok. Humas Kemenlh.go.id)

Kab. Bandung, DMBGLOBAL – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan perlindungan kawasan hulu di Situs Cisanti, kaki Gunung Wayang, merupakan fondasi mutlak bagi keberlanjutan ekosistem Sungai Citarum.

Dalam kunjungan kerjanya meninjau “Titik Nol” Citarum baru-baru ini, Menteri Hanif menekankan kualitas air dan kesehatan lingkungan di wilayah hilir sangat bergantung pada konsistensi penjagaan kawasan tangkapan air (catchment area) di hulu.

Menurutnya, Cisanti bukan sekadar situs ekologis, melainkan simbol vitalitas yang menopang kehidupan jutaan warga Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Benteng Ketahanan Air

Menteri Hanif menilai Cisanti memiliki nilai strategis yang luar biasa sebagai benteng pertama pertahanan sumber daya air.

Ia menyoroti bahwa beban lingkungan di wilayah perkotaan yang padat hanya dapat direduksi secara efektif jika sumber airnya tetap murni dan terlindungi dari degradasi sejak awal.

“Cisanti adalah sumber kehidupan DAS Citarum. Jika kawasan hulunya terjaga, maka beban lingkungan di hilir akan jauh lebih ringan. Perlindungan kawasan seperti ini harus menjadi prioritas bersama,” tegas Menteri Hanif di sela-sela peninjauannya, dikutip DMBGLOBAL.co.id dari Siaran Pers Kemenlg.go.id, Selasa (20/1/26).

Sinergi Citarum Harum dan Tantangan Domestik

Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan perlindungan kawasan hulu di Situs Cisanti, kaki Gunung Wayang, merupakan fondasi mutlak bagi keberlanjutan ekosistem Sungai Citarum.
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan perlindungan kawasan hulu di Situs Cisanti, kaki Gunung Wayang, merupakan fondasi mutlak bagi keberlanjutan ekosistem Sungai Citarum. (Foto: Dok. Humas Kemenlh.go.id)

Dalam konteks program Citarum Harum yang terus berjalan, Menteri Hanif mengingatkan bahwa keberhasilan pemulihan sungai terpanjang di Jawa Barat ini memerlukan napas panjang dan kolaborasi lintas sektor.

Ia menegaskan tidak boleh ada ego sektoral antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Lebih lanjut, ia memaparkan ancaman terhadap kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum kini semakin kompleks. Tantangan tidak hanya datang dari limbah industri, tetapi juga dipicu oleh limbah domestik dan manajemen sampah perkotaan yang belum optimal.

Menanggapi hal tersebut, KLH/BPLH berkomitmen mengubah paradigma kebijakan lingkungan hidup. Tidak lagi sekadar responsif memadamkan masalah pencemaran, namun beralih ke strategi preventif dengan mengedepankan perlindungan ekosistem kunci.

Satu Kesatuan Ekosistem

Menteri Hanif menutup kunjungannya dengan pesan kuat mengenai integrasi tata kelola lingkungan. Menurutnya, penyelamatan Citarum harus dilihat sebagai satu kesatuan ekosistem yang tidak terpisahkan mulai dari wilayah konservasi di pegunungan hingga wilayah administratif di perkotaan.

“Menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong. Hulu yang terjaga, kota yang bersih, dan sungai yang sehat adalah satu kesatuan,” pungkasnya.* (Siaran Pers Kemenlh.go.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *