PLN Nusantara Power Raih Penghargaan atas Inovasi Co-Firing Biomassa untuk Transisi Energi Nasional

Selama tahun 2025, program tersebut berhasil menghasilkan 1.041 GWh energi hijau dan menurunkan emisi karbon hingga 1,17 juta ton CO₂e. Sementara itu, pada kuartal pertama 2026, PLN Nusantara Power mencatat produksi energi hijau sebesar 245 GWh dengan pengurangan emisi mencapai 286 ribu ton CO₂e.
Biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang akan dicampurkan dengan batu bara dalam program co-firing sebagai salah satu inovasi stratergis PLN NP guna mendukung transisi energi nasional. (Foto: dok. PLN NP)

DMBGLOBAL – Transformasi energi nasional kini semakin menunjukkan perkembangan nyata. Di tengah komitmen Indonesia untuk mempercepat penurunan emisi karbon, inovasi teknologi co-firing biomassa yang dikembangkan oleh PLN Nusantara Power mendapat apresiasi langsung dari pemerintah.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui Keputusan Presiden Nomor 126/TK/Tahun 2025, memberikan penghargaan Satyalancana Wira Karya kepada Ardi Nugroho selaku Vice President Technology Development PLN Nusantara Power. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, di Jakarta.

Penghargaan itu diberikan atas peran Ardi dalam mengembangkan teknologi co-firing biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Teknologi tersebut memungkinkan penggunaan campuran batu bara dengan biomassa, seperti woodchip, serbuk kayu, sekam padi, dan cangkang sawit, sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menyampaikan penghargaan tersebut menjadi bukti keberhasilan inovasi energi karya anak bangsa. Menurutnya, penerapan co-firing biomassa merupakan langkah konkret perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

PLN Nusantara Power tercatat sebagai pelopor pengembangan teknologi co-firing biomassa di Indonesia. Program ini dimulai dari tahap penelitian dan pengujian sejak 2018, lalu berhasil diterapkan secara komersial pertama kali di PLTU Paiton pada 10 Juni 2020. Keberhasilan tersebut kemudian menjadi acuan bagi berbagai pembangkit listrik lain di Indonesia.

Saat ini, penerapan co-firing biomassa telah berjalan secara komersial di 25 PLTU. Bahkan, beberapa unit pembangkit telah mampu menjalankan sistem full biomass firing atau penggunaan biomassa sepenuhnya sebagai bahan bakar, yang dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan energi terbarukan nasional.

Selama tahun 2025, program tersebut berhasil menghasilkan 1.041 GWh energi hijau dan menurunkan emisi karbon hingga 1,17 juta ton CO₂e. Sementara itu, pada kuartal pertama 2026, PLN Nusantara Power mencatat produksi energi hijau sebesar 245 GWh dengan pengurangan emisi mencapai 286 ribu ton CO₂e.

Selain memberikan dampak positif bagi sektor energi, program co-firing biomassa juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan limbah pertanian, kehutanan, dan perkebunan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Ardi Nugroho menegaskan pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh tim PLN Nusantara Power dan para pemangku kepentingan. Ia menilai co-firing biomassa menjadi bukti transisi energi dapat dilakukan secara bertahap, inklusif, dan memanfaatkan potensi lokal Indonesia sebagai fondasi menuju target Net Zero Emissions 2060.

Dengan besarnya potensi biomassa nasional, PLN Nusantara Power optimistis teknologi co-firing akan terus berkembang sebagai salah satu strategi utama dalam mendukung bauran energi baru terbarukan sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional.* (Indopos.co.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *