
JAKARTA, DMBGlobal – Ekonomi hijau berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi Indonesia dengan menggabungkan kepentingan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan sosial. Perkembangan energi terbarukan, pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, bisnis rendah karbon, hingga perdagangan karbon membuka peluang baru bagi pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM.
Ekonomi hijau tidak lagi sebatas agenda lingkungan. Perubahan pola konsumsi, tuntutan pasar global, perkembangan regulasi, dan meningkatnya kebutuhan terhadap produk rendah emisi membuat keberlanjutan semakin menentukan arah perekonomian.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi peluang untuk membangun model pertumbuhan yang tetap menghasilkan nilai ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam.
Potensi Ekonomi Hijau Indonesia
Laporan Indeks Ekonomi Hijau 2022 menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat diperoleh Indonesia melalui proses transisi menuju ekonomi hijau.
Dalam laporan tersebut, transformasi ekonomi hijau diproyeksikan dapat mendorong pertumbuhan PDB rata-rata nasional sebesar 6,1–6,5 persen per tahun hingga 2050.
Dari sisi lingkungan, penerapan ekonomi hijau berpotensi menyelamatkan sekitar 87–96 miliar ton emisi gas rumah kaca selama periode 2021–2060. Sementara itu, intensitas emisi Indonesia diproyeksikan dapat turun hingga 68 persen pada 2045.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pengurangan emisi dapat berjalan beriringan dengan agenda pertumbuhan ekonomi apabila didukung investasi, teknologi, dan kebijakan yang tepat.
Ekonomi Hijau Berpotensi Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja
Dampak ekonomi hijau juga terlihat dari peluang penciptaan lapangan kerja.
Ekonomi hijau diproyeksikan dapat meningkatkan PDB Indonesia sekitar Rp593 triliun hingga Rp638 triliun pada 2030. Pada periode yang sama, transformasi tersebut berpotensi menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja hijau.
Menariknya, sekitar 75 persen dari potensi lapangan kerja tersebut diperkirakan dapat diisi oleh tenaga kerja perempuan.
Selain menciptakan kesempatan kerja, transisi ekonomi hijau juga berpotensi menekan persoalan lingkungan. Timbulan limbah diperkirakan dapat berkurang sekitar 18–52 persen dibandingkan skenario business as usual pada 2030.
Sementara dari sisi emisi, ekonomi hijau berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 126 juta ton CO2.
Energi Bersih Menjadi Fondasi Transisi Ekonomi
Salah satu sektor yang memiliki peran besar dalam ekonomi hijau adalah energi.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi beremisi tinggi.
Pengembangan pembangkit energi terbarukan juga berpotensi menciptakan rantai ekonomi baru. Mulai dari investasi proyek, pembangunan infrastruktur, penyediaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, hingga jasa pendukung.
Karena itu, transisi energi tidak hanya dipandang sebagai upaya mengurangi emisi, tetapi juga sebagai peluang membangun industri baru yang lebih kompetitif.
Sampah Dapat Diubah Menjadi Sumber Nilai Ekonomi
Persoalan sampah juga memiliki hubungan erat dengan ekonomi hijau.
Pendekatan ekonomi sirkular mendorong perubahan pola pengelolaan material dari model linear—ambil, gunakan, lalu buang—menjadi sistem yang mempertahankan material agar tetap memiliki nilai selama mungkin.
Pemilahan sampah, penggunaan kembali, daur ulang, pengolahan sampah organik, serta pemanfaatan material bekas dapat membuka peluang usaha baru.
Konsep 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle, juga memberikan ruang bagi UMKM untuk mengembangkan produk yang menggunakan bahan daur ulang atau memanfaatkan limbah sebagai bahan baku.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi.
UMKM Memiliki Peran Penting
Transisi ekonomi hijau membutuhkan keterlibatan pelaku usaha dalam berbagai skala. UMKM menjadi salah satu kelompok penting karena memiliki kedekatan dengan masyarakat dan rantai ekonomi lokal.
Penerapan prinsip hijau dapat dilakukan melalui berbagai langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, meningkatkan efisiensi energi, mengurangi limbah produksi, menggunakan bahan baku berkelanjutan, hingga menciptakan produk dengan konsep ramah lingkungan.
Apabila dilakukan secara konsisten, praktik tersebut dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing usaha.
Tantangannya adalah akses UMKM terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, sertifikasi, dan pengetahuan mengenai keberlanjutan masih perlu diperkuat.
Ekonomi Karbon Membuka Ruang Bisnis Baru
Perkembangan ekonomi hijau juga tidak dapat dilepaskan dari ekonomi karbon.
Upaya pengurangan dan penyerapan emisi kini memiliki dimensi ekonomi melalui pengembangan nilai ekonomi karbon. Proyek-proyek yang mampu menghasilkan pengurangan atau penyerapan emisi secara terukur dapat menjadi bagian dari ekosistem karbon, sepanjang memenuhi ketentuan dan standar yang berlaku.
Perkembangan tersebut menciptakan kebutuhan terhadap berbagai kompetensi baru, mulai dari pengukuran emisi, penyusunan inventarisasi gas rumah kaca, pengembangan proyek karbon, validasi dan verifikasi, hingga perdagangan unit karbon.
Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi munculnya profesi, jasa konsultasi, teknologi, dan model bisnis baru yang berhubungan dengan pengelolaan karbon.
ATKARBONIST Dorong Ekosistem Karbon dan Bisnis Berkelanjutan
Dalam perkembangan ekonomi hijau di Indonesia, penguatan kapasitas pelaku usaha dan penggiat karbon menjadi bagian penting dari pembangunan ekosistem berkelanjutan.
Asosiasi Penggiat Karbon dan Bisnis Berkelanjutan (ATKARBONIST) hadir dalam ekosistem tersebut dengan fokus pada pengembangan pengetahuan, kapasitas, jejaring, serta kolaborasi di bidang karbon dan bisnis berkelanjutan.
Penguatan ekosistem diperlukan agar pelaku usaha tidak hanya memahami kewajiban pengurangan emisi, tetapi juga mampu melihat peluang ekonomi yang muncul dari transformasi menuju bisnis rendah karbon.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga profesional, komunitas, dan organisasi penggiat karbon menjadi semakin penting untuk mempercepat proses tersebut.
Tantangan Menuju Ekonomi Hijau
Meskipun peluangnya besar, transisi ekonomi hijau Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.
Beberapa di antaranya adalah kebutuhan investasi yang besar, kesenjangan infrastruktur, akses terhadap teknologi, kesiapan sumber daya manusia, kepastian regulasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat.
Pelaku UMKM juga membutuhkan pendampingan agar mampu menerapkan prinsip keberlanjutan tanpa meningkatkan beban biaya secara berlebihan.
Karena itu, pemerintah memiliki peran penting dalam menyediakan regulasi yang konsisten, insentif, pembiayaan hijau, dan infrastruktur pendukung.
Sementara sektor swasta dapat berperan melalui investasi, inovasi teknologi, pengembangan rantai pasok berkelanjutan, dan penciptaan pasar bagi produk rendah karbon.
Ekonomi Hijau dan Masa Depan Bisnis Indonesia
Ekonomi hijau berpotensi mengubah cara Indonesia memandang hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan lingkungan.
Energi terbarukan dapat menjadi sumber investasi baru. Sampah dapat dikembangkan menjadi bahan baku. UMKM dapat menciptakan produk berkelanjutan. Sementara proyek pengurangan dan penyerapan emisi dapat berkembang dalam ekosistem ekonomi karbon.
Dengan demikian, ekonomi hijau memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar program pelestarian lingkungan.
Keberhasilan transisi akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia membangun ekosistem yang mempertemukan kebijakan, modal, teknologi, sumber daya manusia, dan inovasi.
Bagi dunia usaha, arah tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan semakin menjadi bagian dari strategi bisnis. Bagi penggiat karbon, kondisi ini membuka ruang untuk memperkuat kompetensi dan menciptakan solusi yang menghubungkan pengurangan emisi dengan nilai ekonomi.
Pada akhirnya, ekonomi hijau bukan hanya tentang bagaimana Indonesia mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana perubahan tersebut dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, lapangan kerja, investasi, inovasi, dan bisnis berkelanjutan.*
Sumber: Atkarbonist
